Mari
kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan Sya’ban ini.
Kita persiapkan diri kita baik ilmu, ruhiyah dan juga fisiki untuk bulan
yang penuh karunia tersebut.
Mempersiapkan
ruhiyah kita adalah dengan mulai mempelajari hal-hal penting yang perlu
kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran
fiqhus-syiyam kita, yaitu fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran.
Kita sadarkan diri dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut
bagi agama dan keimanan kita.
Secara
fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih
diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah
kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di bulan
Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan
Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalam pada malam
tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan
persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh
maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sys’ban
semoga bisa kita baca dan amalkan:
Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.
Usamah
bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:’Wahai Rasulullah, aku tidak
pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada
bulan Sya’ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:”Itu bulan dimana manusia
banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan
dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika
amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).
Dari
A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud
panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena
curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak.
Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak
dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya
berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena
engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau,
malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam
ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini,
maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang
mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang
dengki” (H.R. Baihaqi)
Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang
tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dalam
hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah
dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun
ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta
ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia
rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga
fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Ulama
berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal
(keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun
melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban,
dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai
keuatamana dibandingkan dengan malam-malam lainnya.
Bagaimana
merayakan malam Nisfu Sya’ban? Adalah dengan memperbanyak ibadah dan
salat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban
dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah
tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini
sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.
Jadi
sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara
memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan
amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam.

0 comments :
Posting Komentar