10 Keistimewaan Puasa Ramadhan

Firman Allah SWT maksudnya : “ Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. “ (Surah al-Baqarah ayat 183)

Dari Abu Hurairah katanya Nabi SAW bersabda maksudnya : " Sesungguhnya telah datang kepada kamu bulan Ramadan bulan yang penuh berkat. Allah telah fardukan ke atas kamu berpuasa padanya. Sepanjang bulan Ramadan itu dibuka segala pintu syurga dan ditutup segala pintu neraka serta dibelenggu segala syaitan." (Hadis Riwayat Ahmad, an-Nasa'i dan Baihaqi)

Marilah sama-sama kita menanti kedatangan Ramadan dengan hati yang suci dan mengharapkan keredaan Allah SWT. Terdapat banyak hikmah dan kebaikan ibadah puasa yang kita kerjakan di bulan Ramadan yang difardukan oleh Allah SWT, semoga dengan memahami hikmah dan kebaikan ibadah puasa ini akan menambahkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki mengatakan orang yang berpuasa mempunyai 10 keutamaan yang diberikan Allah SWT, di antaranya ialah:

Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di syurga yang dinamai Al Rayyan. Pintu syurga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa ( puasa zahir dan batin).

Nabi SAW bersabda dalam satu hadisnya yang bermaksud : " Pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadan, maka tidak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya. (Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).


Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad SAW sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda maksudnya : “Puasa (Ramadan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari seksa api neraka.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Al Baihaqi).


Nabi SAW. menambahkan pula bahawa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan mengumpat. (Hadis Riwayat Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).

Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada orang yang puasa dengan menjadikan bau mulutnya itu lebih harum dari minyak kasturi. Sehingga Nabi SAW bersabda maksudnya "Maka perubahan bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau kasturi. (Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, Nasai'e, Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Habban dan Baihaqi)

Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi orang yang puasa iaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya melahirkan rasa syukurnya dimana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan zikir. Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan kerana telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya.
Nabi SAW bersabda maksudnya : "Bagi orang berpuasa dua kegembiraan yang mana dia bergembira dengan keduanya apabila berbuka dia bergembira dengan waktu berbukanya dan apabila bertemu Tuhannya dia gembira dengan puasanya. (Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, Nasai'e, Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Habban dan Baihaqi)

Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesihatan dan kesembuhan dari berbagai penyakit. “Berpuasalah kalian, nescaya kalian akan sihat.”
(Hadis Riwayat Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).

Sayyid Muhammad menegaskan bahawa rahasia kesihatan di balik ibadah puasa adalah bahawa puasa menempah tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan bahan-bahan kotor lainnya dari dalam tubuh.

Menurut pandangan beliau puasa ialah cara mendapatkan kesihatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. Firman Allah SWT maksudnya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Surah Al Baqarah ayat 183).

Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada orang yang puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari seksa api neraka. Matanya tidak akan sampai melihat seksaan api neraka dalam bentuk apapun juga. Nabi SAW. bersabda maksudnya : “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, dan Nasa`i).

Ketujuh, dalam al-Quran Allah berfirman maksudnya : “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.”
(Surah At Taubah ayat 112).

Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahawa orang –orang yang melawat (as-saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) kepada Allah. Makna lawatan, tegas beliau, di sini adalah bahawa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) boleh sampai kepada Allah. Lawatan kepada Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilaksanakan (contoh makan, minum, mendatangi isteri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.

Sayyid Muhammad cuba mentafsirkan ayat 10 dalam Surah Az Zumar : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tidak terhitung banyaknya dari Zat Yang Maha Pemberi, Allah SWT.

Kelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktiviti orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Kerana orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah.

Dalam satu hadis riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, Nabi SAW bersabda maksudny : “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”

Kesembilan, di antara cara yang Allah kenakan dalam memuliakan orang yang berpuasa, bahawa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama seperti dengan orang yang berpuasa itu sendiri walaupun dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi SAW. bersabda maksudnya : “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (Hadis Tirmidzi, Ahmad & An-Nasa’i)

Malaikat meminta ampun kepada Allah SWT untuk orang yang menjamu makanan dan minuman untuk orang yang berpuasa. Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda maksudnya : " Seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadan meski hanya seteguk air. (Hadis Riwayat Abu Ya`la).

Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjemaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan berselawat (memintakan ampunan) baginya.

Sahabat yang dimuliakan,

Marilah kita menghayati 10 keistimewaan yang dikurniakan oleh Allah SWT kepada mereka yang berpuasa dengan ikhlas semata-mata mencari keredaan Allah SWT. Di harapkan sampai di akhir bulan Ramadan, semua dosa-dosa kita di ampunkan oleh Allah SWT., dapat pembebasan daripada api neraka dan memperolehi takwa kepada Allah SWT.

Kewajiban Muslim Berpuasa di Bulan Ramdhan

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواْكُتِبَ عَلَيْكُمُالصِّيَامُكَمَاكُتِبَعَلَى الَّذِينَمِنقَبْلِكُمْلَعَلَّكُمْتَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. 2:183)

Salah satu kewajiban ummat Islam adalah melaksanakan perintah Allah SWT yaitu puasa di Bulan Ramadhan. Bulan ini merupakan bulan yang sangat istimewa untuk ummat Islam. Bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, di antaranya Keistimewaan Bulan Ramadhan :

1. Diturunkannya Kitab Suci Al Qur'an
2. Dibukanya pintu-pintu surga
3. Diampuninya Dosa-dosa di bulan itu
4. Semua pahala dilipatgandakan
5. Datangnya Lailatul Qadar
6. I'tikaf dibulan Ramadhan
7. Salah satu penyebab masuk surga
8. Bulan Ibadah dan Amal Kebaikan
9. Di Ijabah semua doa-doa

Makna ayat di atas menjelaskan, Menurut Tafsir Imam At-Tabari dalam ayat ini seolah-olah Allah SWT berfirman: “Hai sekalian orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan dan mengakui kedua-Nya diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu dari kalangan ahli kitab.” yaitu pada hari-hari di Bulan Ramadhan. Karena sesungguhnya orang-orang setelah Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk mengikuti Nabi Ibrahim AS.

Demikian itu karena Allah SWT telah menjadikan Nabi Ibrahim AS sebagai pemimpin manusia dan agamanya adalah agama yang lurus lagi selamat. Maka Rasulullah SAW diperintahkan untuk mengikutinya seperti yang diperintahkan kepada para Nabi sebelumnya (sesudah Nabi Ibrahim AS). Adapun penyerupaan antara Puasa Umat Islam dengan Puasa mereka (umat-umat sebelumnya) terletak pada waktu pelaksanaannya, yaitu Bulan Ramadhan. Karena umat sebelum,nya diwajibkan Puasa pada Bulan Ramadhan sebagaimana Umat Islam, umat Muhammad SAW. Sedangkan maksud penggalan ayat “… agar kamu bertakwa,” yaitu agar kita menjauhi hal-hal apa saja yang dapat membatalkan Puasa kita, yaitu bisa berupa makan, minum, dan berhubungan seksual ketika berpuasa.

Allah SWT sebaik-baik Dzat yang dimintai pertolongan untuk melindungi kita semua dari hal-hal yang mendatangkan kemarahan-Nya. Semoga Allah menerima puasa dan shalat kita semua, memperbaiki pemimpin kaum musimin, menolong agama-Nya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat memahami agama ini dan tetap menapak di jalannya. Berhukum dan berlandaskan kepadanya dalam setiap keadaan. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, hamba dan rasul-Nya, beserta keluarga, para sahabatnya dan setiap orang yang menempuh jalannya hingga hari kiamat.

Tuntunan dan Perkara Dalam Melaksanakan Puasa Ramdhan

Ramadhan sebentar lagi, mari kita menjalankan rukun islam yang ke-4 sebagai bukti kita menuruti perintah Allah Ta'ala
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa", (QS Al-Baqarah 2:183).

Tuntunan puasa Ramadhan (ramadlan, ramadan) dan puasa sunnah: syarat, rukun, yang membatalkan, kewajiban bagi yang tidak puasa, dll.


DASAR WAJIBNYA PUASA RAMADHAN

1. Al-Quran Surah (QS) Al-Baqarah 2:183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (QS Al-Baqarah 2:183)

2. Hadits Bukhari & Muslim (muttafaq alaih)

بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلاالله وأن محمدا رسول الله ، وإقام الصلاة ، ةإيتاء الزكاة ، والحج ، وصوم رمضان
Artinya: Islam dibangun atas lima perkara: kesaksian tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, puasa Ramadhan.

3. Ijmak (kesepakatan) ulama. Semua ulama sejak dari kalangan Sahabat, Tabi'in, Tabi'it-tabi'in dan empat madzhab, dst sepakat atas wajibnya puasa Ramadhan.

Karena itu, orang yang ingkar atas wajibnya puasa Ramadhan dihukumi kafir.

SYARAT-SYARAT PUASA

Menurut madzhab Syafi'i dalam kitab Fathul Qorib syarat wajibnya puasa itu ada 4 (empat) yaitu:

1. Islam
2. Baligh
3. Berakal sehat
4. Mampu melaksanakan puasa

Catatan: syarat puasa adalah sesuatu yang harus terpenuhi sebelum melaksanakan puasa.

RUKUN/FARDHU-NYA PUASA
Rukun puasa dalam madzhab Syafi'i ada 4 (empat) berdasarkan kitab Fathul Qorib yaitu:

1. Niat dalam hati. Puasa dianggap tidak sah tanpa disertai dengan niat yang dilakukan di malam hari sebelum subuh (terbitnya fajar).
2. Menahan diri dari makan dan minum walaupun sedikit.
3. Menahan diri dari jimak (melakukan hubungan intim dengan suami/istri)
4. Menahan diri dari muntah yang disengaja.

Catatan: rukun puasa adalah sesuatu yang harus dilakukan saat pelaksanaan puasa.

NIAT PUASA RAMADHAN DALAM BAHASA ARAB

Niat diucapkan dalam hati tapi boleh juga sekaligus diucapkan secara lisan. Niat puara Ramadhan harus diucapkan malam hari mulai awal malam (terbenam matahari) sampai sebelum waktu Subuh.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدآءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّهِ تَعَالَى
Artinya: Saya niat puasa besok untuk melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan tahun ini karena Allah ta'ala.

DOA BERBUKA PUASA RAMADHAN

DOA I:

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت

Artinya: Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.

DOA II:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
Artinya: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki.

DOA III:

اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ

Artinya: Ya Allah, aku memohon rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya engkau mengampuni aku.


YANG MEMBATALKAN PUASA

Berikut perkara-perkara yang membatalkan puasa Ramadhan atau puasa sunnah.
  • Sampainya sesuatu benda padat atau cair ke dalam perut/rongga atau kepala seperti mulut, kuping, dll atau yang tertutup.
  • Sampainya sesuatu benda padat atau cair ke dalam perut/rongga yang tertutup.
  • Masuknya obat melalui jalan depan (kemaluan) atau belakang (anus).
  • Muntah secara sengaja.
  • Hubungan intim (jimak) suami istri dengan sengaja.
  • Keluar sperma selain jimak seperti onani, mengkhayal, atau mencium istrinya.
  • Haid.
  • Nifas.
  • Gila.
  • Murtad atau keluar dari Islam.

CATATAN:
(a) Yang dimaksud jalan/lobang/rongga terbuka (al-jauf al-munfatihi الجوف)المنفتح) dalam poin 1 adalah mulut, hidung, mata, kuping, lubang/saluran kencing, dubur (anus), jalan depan (qubul/kemaluan).
(b) Intinya adalah orang yang puasa harus menahan diri (imsak) dari masuknya sesuatu benda ke dalam sesuatu yang disebut al-jauf (perut/rongga dalam tubuh).


ORANG YANG BOLEH TIDAK PUASA RAMADAN
Puasa Ramadhan pada bulan Ramadhan itu wajib kecuali orang-orang yang berada dalam keadaan di bawah ini yang boleh tidak puasa tapi tetap wajib qadha (mengganti) di hari lain:

1. Safar/musafir (perjalanan)
2. Sakit.
3. Mengandung dan menyusui.
4. Jompo, atau usia lanjut.


AMALAN SUNNAH SELAMA PUASA
  • Sahur walaupun dengan seteguk air, 
  • Menyegerakan berbuka (takjil).
  • Berdo’a ketika akan berbuka.
  • Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal hal yang bisa mengurangi pahala puasa.
  • Berusaha untuk mandi janabah atau mandi setelah haidh atau nifas sebelum fajar, agar puasanya sejak pagi sudah dalam keadaan suci, walaupun jika mandinya dilakukan setelah fajar tetap puasanya dianggap sah.
  • Memberi makan pada orang lain untuk berbuka puasa, baik makanan ringan, minuman atau lainnya, walaupun yang lebih utama adalah yang mengenyangkan.
  • I’tikaf, terutama pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan.


AMALAN MAKRUH SELAMA PUASA
  1. Puasa wishol (dua hari bersambung tanpa berbuka).
  2. Melakukan hubungan mesra dengan istri tanpa bersetubuh, seperti mencium, meraba, dan lain lain, karena dikhwatirkan bisa mengeluarkan air mani yang bisa membatalkan puasa, dan dikhawatirkan jatuh dalam persetubuhan yang haram untuk dilakukan, yang bisa memberatkan dalam hukuman.
  3. Berlebih lebihan dalam melakukan hal yang mubah, seperti mencium wangi-wangian disiang hari bulan Ramadhan.
  4. Mencicipi makanan, karena dikhawatirkan bisa tertdlan dan bisa tercampur ludah yang kemudian tertelan.
  5. Berkumur dan istinsyaq (menghirup air dengan hidung) secara berlebihan, karena dikhwatirkan bisa tertelan yang mengakibatkan puasanya menjadi batal.


YANG MEMBATALKAN PAHALA PUASA

Perilaku yang membuat puasa seseorang tetapi sah, tapi tidak mendapat pahala dan fadhilah puasa
1. Ghibah (gosip)
2. Adu domba
3. Berbohong
4. Memandang lawan jenis dengan syahwat
5. Sumpah palsu.
6. Berkata jorok, porno atau jelek

Rasulullah SAW bersabda :
خمس يفطّرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة

Artinya: Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa: berbohong, ghibah (gosip), adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “ (H.R. Anas)

KEWAJIBAN BAGI YANG TIDAK PUASA RAMADAN
Orang yang tidak puasa Ramadhan baik karena sengaja atau tidak atau karena ada udzur memiliki kewajiban-kewajiban tertentu sesuai dengan sebab tidak puasanya sebagai berikut:

KEWAJIBAN ORANG TIDAK PUASA RAMADAN KARENA SAKIT, MUSAFIR, HAID, NIFAS
Orang-orang yang tidak puasa karena sebab-sebab di atas harus mengganti (qadha) puasanya pada hari lain di luar bulan Ramadhan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah 2:185: وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya: Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.


KEWAJIBAN ORANG TIDAK PUASA RAMADAN KARENA MENYUSUI
Ibu yang menyusui yang tidak puasa Ramadhan ada dua tipe: 
  1. Tidak puasa karena takut atas kesehatan dirinya seperti akan berakibat sakit maka boleh tidak berpuasa dan wajib meng-qadha tanpa harus membayar kafarat/fidyah.
  2. Tidap puasa karena kuatir akan kesehatan anaknya seperti takut sedikitnya ASI (Air Susu Ibu), ia boleh tidak puasa Ramadan tapi wajib mengganti (qadha) dan membayar kaffarah/fidyah 1 (satu) mud untuk setiap hari yang ditinggalkan.


KEWAJIBAN ORANG TIDAK PUASA RAMADAN KARENA HAMIL
  1. Tidak puasa karena takut atas kesehatan dirinya seperti akan berakibat sakit maka boleh tidak berpuasa dan wajib meng-qadha tanpa harus membayar kafarat/fidyah.
  2. Tidak puasa karena kuatir akan kesehatan anaknya seperti takut gugurnya kandungan, ia boleh tidak puasa Ramadan tapi wajib mengganti (qadha) dan membayar kaffarah/fidyah 1 (satu) mud untuk setiap hari yang ditinggalkan.
KEWAJIBAN ORANG TIDAK PUASA RAMADAN KARENA HUBUNGAN INTIM (JIMAK) Pasutri (pasangan suami istri) yang melakukan hubungan seks/intim (jimak) pada siang hari bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa maka puasanya batal. Keduanya wajib:
  • meng-qadha puasanya; dan 
  • membayar kaffarah/denda berupa: (i) memerdekakan budak perempuan yang muslim; atau (ii) puasa 2 bulan berturut-turut; atau (iii) memberi makan 60 orang miskin/fakir masing-masing 1 (satu) mud atu 6.75 ons.
KEWAJIBAN ORANG TIDAK PUASA RAMADAN KARENA TUA, JOMPO, SAKIT TIDAK SEMBUH-SEMBUH

Orang-orang ini boleh tidak berpuasa apabila tidak mampu melakukannya. Tidak wajib meng-qadha (mengganti) puasa yang ditinggalkan. Tapi wajib membayar kaffarah/fidya berupa memberi makan orang miskin 1 (mud)/6.75 ons beras setiap hari.

1 (satu) mud sama dengan 6,75 ons

Sumber Bacaan : http://www.alkhoirot.net/2011/08/puasa-ramadan.html
SUMBER RUJUKAN DAN CATATAN:
[1] Kitab Fathul Qorib fi Alfadzit Taqrib, bab "Kitabus Shiyam"
[2] Kitab Al-Umm Imam Syafi'i.

Hikmah Berpuasa Di Bulan Ramadhan

"Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)

PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

Ramadhan bulan yang banyak mengandung Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim, yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.

Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb.

Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari,karena mematuhi perintah Allah.Walaupun isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah s.w.t.

Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah: "Wahai orang-orang yang beriman" dan disudahi dengan:" Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa." 

Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan penuh untuk melatih diri kita, menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum, mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.

Rasullah s.a.w.bersabda: "Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor." (H.R.Ibnu Khuzaimah)

Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak beristirahat selama 24 jam. Alhamdulillah, dengan berpuasa kita dapat mengistirahatkan alat pencernaan kita lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.

Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan akan membawa faaedah bagi kesehatan rohani dan jasmani kita bila ditunaikan mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.

Allah berfirman yang maksudnya: "Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (s.al-A'raf:31)

Nabi SAW juga bersabda: "Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang."

Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa mudharat kepada kesehatan kita. Bisa menyebabkan badan menjadi gemuk, dan beresiko mendapat penyakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh karena itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insya Allah sebagai muslim, kita akan mampu menjalankan ibdah puasa ini dengan baik, ikhlas dan tawadhu.

Allah berfirman yang maksudnya: "Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran pimpinan untuk manusia dan penjelasan keterangan dari pimpinan kebenaran itu, dan yang memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan, hendaklah ia mengerjakan puasa".(Q.S.Al-Baqarah:185)

Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas

Marhaban Yaa Ramadhan

Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan Sya’ban ini. Kita persiapkan diri kita baik ilmu, ruhiyah dan juga fisiki untuk bulan yang penuh karunia tersebut. 

Mempersiapkan ruhiyah kita adalah dengan mulai mempelajari hal-hal penting yang perlu kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran fiqhus-syiyam kita, yaitu fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran. Kita sadarkan diri dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut bagi agama dan keimanan kita.

Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalam pada malam tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sys’ban semoga bisa kita baca dan amalkan:

Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.

Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).
Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) 
Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.

Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keuatamana dibandingkan dengan malam-malam lainnya.

Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban? Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.

Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam.